Langkah-Langkah Membaca Huruf Arab Gundul

Luruskan Niat

Dalam sebuah hadits yang terlampau populer, dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai bersama niatnya. Dan tiap-tiap orang [yang beramal] bakal dibalas cocok bersama apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang mendambakan dia mencapai atau wanita yang mendambakan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini adalah hadits yang terlampau agung. Sebab di di dalam hadits ini dipancangkan salah satu pondasi amalan; yakni keikhlasan.

Amal tidak bakal diterima tanpanya. Amal apapun; apakah itu sholat, puasa, zakat, haji, demikianlah pula tholabul ‘ilmi/menuntut pengetahuan syar’i. Semuanya butuh tekad yang benar.

Oleh karena itu, sebagian ulama hadits mengawali karya mereka bersama hadits ini

Seperti Imam Bukhari rahimahullah di dalam kitabnya Sahih Al-Bukhari, demikianlah pula Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah di dalam kitabnya ‘Umdatul Ahkam, dan Imam An-Nawawi rahimahullah di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin.

 

Tumbuhkan Semangat

Mempelajari pengetahuan bhs arab adalah anggota dari ibadah dan terhitung ajaran agama. Karena sadar Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah kewajiban; saat kami tidak bakal bisa sadar keduanya bersama baik jika bersama bhs arab, maka mempelajari pengetahuan bhs arab menjadi sebuah kewajiban yang terlampau mulia atau dengan mengikuti kursus bahasa arab pare.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya bakal dipahamkan di dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhitung menegaskan, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan di dalam rangka melacak pengetahuan [agama] maka Allah bakal mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim)

 

Cita-Cita Tinggi

Mempelajari bhs arab bukanlah kebutuhan yang berwujud khusus semata, apalagi ini adalah kebutuhan umat Islam dan umat manusia. Karena bersama sadar bhs arab dan menggunakannya untuk sadar Al-Kitab dan As-Sunnah seorang muslim bakal bisa mengajak manusia ke jalan Allah di atas landasan ilmu/bashirah.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku. Aku mengajak [kalian] kepada [agama] Allah di atas bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci Allah, saya bukan terhitung golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Ayat ini memperlihatkan bahwa pengikut sejati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang berdakwah kepada Islam/tauhid di atas ilmu. Bukan berdakwah di atas kebodohan. Bukan berdakwah bersama stimulus belaka tanpa modal ilmu. Ia berdakwah bersama ikhlas; mengajak manusia untuk menghamba kepada Allah saja, bukan menghamba kepada kepentingan dunia, kepentingan kelompok atau individu tertentu.

 

Mengatur Waktu

Waktu adalah nikmat yang kerap dilalaikan. Banyak orang yang gagal dan binasa karena tidak pintar manfaatkan waktu. Kesempatan yang Allah memberikan kepada seorang hamba di alam dunia ini mestinya digunakan sebaik-baiknya. Sebab hidup di dunia cuma sekali. Setelah itu bakal tersedia kematian dan hari kebangkitan serta pembalasan amal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah kenikmatan yang banyak orang tertipu karenanya; yakni kebugaran dan saat luang.” (HR. Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma)

Allah ta’ala apalagi telah mengingatkan (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia terlampau berada di dalam kerugian, jika orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati di dalam kebenaran, dan saling menasihati di dalam menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)

Surat yang ringkas ini menggambarkan kepada kami bahwa kerugian di alam dunia ini dialami oleh orang yang tidak membekali dirinya bersama keimanan, amal salih, dakwah, dan kesabaran. Orang yang tenggelam di dalam kekafiran, syirik, kemaksiatan, kebid’ahan, dan hawa nafsu adalah barisan orang-orang yang merugi.

Oleh karenanya, seorang penuntut pengetahuan yang mengusahakan untuk sadar bhs kitab sucinya untuk manfaatkan saat dan kesempatan yang Allah memberikan kepadanya sebaik-baiknya.

Mungkin anda mempunyai saat luang satu jam atau 1/2 jam tiap-tiap harinya yang bisa anda manfaatkan untuk membaca pelajaran dan mengulang-ulang materi yang telah diberikan. Sungguh itu adalah amalan yang terlampau bernilai bagi anda.

 

Fokus Terhadap Pelajaran dan Belajar Secara Bertahap

Terkadang dijumpai sebagian orang yang telah lama ikuti pengajian dan apalagi sempat belajar bhs arab berulang-kali bakal tapi tetap saja belum bisa membaca kitab. Diantara karena utama yang banyak berjalan di lapangan adalah karena tidak fokusnya mereka di dalam belajar.

Mereka bersemangat bakal tapi tidak sadar bagaimana menyalurkan semangatnya. Sehingga mereka aktif pengajian kesana kemari tapi pengetahuan bhs arab dan kapabilitas baca kitabnya tidak kunjung bertambah.

Tentu saja, yang kami maksudkan di sini adalah orang-orang yang tetap mempunyai kapabilitas untuk belajar. Bukan orang yang telah pikun yang kerap lupa atau orang gila yang tidak sadar apa yang dia ucapkan atau lakukan. Sebab mereka adalah para pemuda dan belum memasuki jenjang lansia.

Tidak jarang pula kami dapati mereka adalah orang yang aktif mengurus kajian dan mobilisasi bermacam kesibukan islam dan dakwah.

Ini merupakan fenomena memprihatinkan. Terlebih kembali jika kami cermati bermacam persoalan berbau fanatisme golongan; tidak sedikit diantaranya yang dipicu oleh orang-orang yang tidak sadar perihal ilmu-ilmu Islam yang mendasar, dan terhitung tidak sadar bhs arab. Mereka turut andil di dalam pergolakan dan perseteruan yang seolah tak berkesudahan.

Semata-mata karena sosok [baca: ustadz atau da’i] yang mereka ikuti berlainan. Padahal, ulamanya sama, kitabnya sama, dan aqidahnya pun sama.

Mereka mendambakan selesaikan pertikaian bersama kebodohan dan stimulus berapi-api yang tidak bisa membedakan antara berjihad bersama lisan dan berbuat jahat bersama ucapan.

Padahal, sebagaimana telah diungkapkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam Sahihnya, ketika beliau menukil sebagian ucapan ulama salaf perihal arti istilah rabbani.

Beliau berkata, “Rabbani adalah orang yang membina manusia bersama ilmu-ilmu yang kecil/dasar sebelum akan ilmu-ilmu yang besar.” Lantas, apakah kenyataan yang kami lihat serupa seperti apa yang dideskripsikan di di dalam riwayat ini?

Para penimba pengetahuan yang dirahmati Allah, agama kami yang mulia ini terlampau menjunjung kehormatan para ulama. Seperti yang dideskripsikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah di mukadimahnya di dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah; bahwa para ulama lah yang ‘menghidupkan’ orang-orang yang telah mati [hatinya] bersama Kitabullah, mereka lah yang mengajak orang sesat kepada hidayah, mereka lah yang menambahkan pencerahan kepada mereka yang buta [mata hatinya] bersama cahaya [ilmu] dari Allah. Mereka lah yang membersihkan Kitabullah dari ta’wil/penyelewengan orang-orang jahil, kedustaan para pembohong, dan menyingkirkan tahrif/penyimpangan orang-orang ekstrim.

Salah satu bentuk pemuliaan kami pada pengetahuan yang mereka bawa adalah bersama fokus di dalam belajar dan bertahap di dalam mempelajarinya. Sebagaimana yang ditunaikan oleh para sahabat radhiyallahu’anhum.

Mereka mempelajari sepuluh ayat al-Qur’an dan mengusahakan sadar ilmu, keimanan dan amal yang terdapat di dalamnya. Sehingga hidup mereka penuh bersama keberkahan. Ucapan dan amalan mereka pun menjadi teladan bagi generasi yang datang sesudahnya. Padahal, pada mulanya mereka terbenam di dalam kejahiliyahan dan keburukan. Kemudian bersama Islam lah mereka dimuliakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah bakal mengangkat bersama Kitab ini sebagian orang dan bakal merendahkan sebagian yang lain dengannya pula.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu)

 

Bacalah al-Qur’an!

Sebagaimana telah ditegaskan di awal, bahwa target belajar membaca kitab arab gundul adalah untuk sadar al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh karena itu terlampau tidak pantas bagi seorang penuntut pengetahuan -yang berharap kedekatan diri di segi Rabbnya- untuk kemudian mengosongkan hari-harinya dari kesibukan membaca al-Qur’an dan men-tadabburinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari ‘Utsman bin ‘Affanradhiyallahu’anhu)

Membaca al-Qur’an adalah terhitung dzikir kepada Allah. Sementara dzikir kepada Allah bakal tingkatkan keimanan dan karena datangnya pertolongan, hidayah dan keselamatan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanyalah orang-orang beriman itu adalah yang bila disebut nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka cuma bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfaal: 2)

Allah ta’ala terhitung berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang ikuti petunjuk-Ku maka dia tidak bakal sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

 

Bacalah Hadits!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -sebagaimana kami yakini- adalah manusia yang mengemukakan wahyu Allah kepada kita. Beliau lah sebaik-baik manusia yang sadar tafsir al-Qur’an dan hukum-hukum Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul, sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisaa’: 80)

Oleh karena itu para ulama menerangkan, bahwa arti keimanan beliau sebagai rasul adalah; membetulkan beritanya, jalankan perintahnya, menjauhkan larangannya, beribadah bersama tata-cara yang diajarkannya, dan berhukum bersama hukum-hukumnya.

Dengan demikianlah telah mestinya seorang penuntut pengetahuan untuk meluangkan saat membaca sabda-sabda manusia paling baik sepanjang masa. Menelaah lembaran-lembaran nasehat dan pelajaran yang beliau wariskan kepada kami umatnya.

Bagaimana bisa saja seorang penuntut pengetahuan -yang mengusahakan untuk sadar Kalam Rabbnya- kemudian berpaling dari menuai hikmah dan faidah dari hadits-hadits Nabi akhir zaman yang membawa rahmat bagi segenap alam?

Semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, para sahabat, dan segenap pengikut setia mereka.

 

Koleksi Kitab Ulama

Penimba pengetahuan al-Kitab dan as-Sunnah terlampau butuh info dari para ulama. Apakah ulama tafsir, hadits maupun fiqih. Terlebih kembali di dalam persoalan aqidah atau tauhid. Karena itulah menghimpun karya-karya mereka di dalam bentuk kitab atau file di di dalam computer adalah metode yang terlampau pas dan bermanfaat. Sehingga setiap waktu kami butuhkan, bersama enteng kami bakal bisa mendapatkan apa yang kami inginkan.

Kitab para ulama tentu terlampau banyak jumlahnya. Terkadang satu judul kitab saja telah kami temukan berjilid-jilid dan tiap jilidnya terdiri dari beratus-ratus halaman.

Oleh karena itu seorang penimba pengetahuan mesti mengenal bermacam model kitab para ulama. Ada diantara kitab ulama itu yang ditulis berdasarkan susunan ayat supaya jadilah ia kitab tafsir. Ada diantara kitab ulama yang disusun berdasarkan susunan hadits supaya jadilah ia kitab syarah hadits. Ada pula kitab ulama yang khusus membicarakan bidang pengetahuan khusus semacam aqidah, tauhid, fikih, adab, akhlak, siroh, dan lain sebagainya.

Untuk bisa sadar tingkatan buku atau kitab ulama seorang penuntut pengetahuan mesti melacak info buku-buku apakah yang mestinya dibaca bagi pemula dan buku-buku apa yang sifatnya sebagai rujukan dan buku-buku apa yang sesungguhnya ditulis bagi yang ilmunya telah mapan dan mendalam.

Diantara kitab yang bisa dibaca di dalam hal ini bila Kitab al-’Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin rahimahullah atau Ma’alim fi Thariq Thalab al-’Ilmi karya Syaikh Abdul ‘Aziz As Sad-han hafizhahullah.

 

Kitab Matan dan Kitab Syarah

Diantara istilah yang mesti diketahui oleh para penimba pengetahuan adalah matan dan syarah. Matan adalah teks asli tanpa uraian penjelasan. Sepeti bila matan Shahih Bukhari, matan Shahih Muslim, matan ‘Umdatul Ahkam, matan Hadits Al Arba’in An Nawawiyyah, matan Kitab At Tauhid, dsb.

Adapun yang dimaksud bersama syarah adalah penjelasan pada matan-matan tersebut. Sehingga bisa kami temukan kitab-kitab yang memuat syarah pada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, ‘Umdatul Ahkam, Hadits Al Arba’in An Nawawiyyah, ataupun Kitab At Tauhid.

Kitab syarah ini pun bermacam ragam. Ada diantara kitab syarah ini yang ringkas, dan biasa disebut bersama istilah ta’liq/komentar atau hasyiyah/catatan pinggir. Misalnya ta’liq pada Matan al-’Aqidah ath-Thahawiyah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dan kitab Hasyiyah Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah.

Ada kembali yang berwujud uraian panjang lebar, dan inilah yang kerap disebut bersama istilah syarah. Semacam kitab syarah Sahih al-Bukhari yang berjudul Fat-hul Bari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah atau kitab syarah ‘Umdatul Ahkam yang berjudul Taisir al-’Allam karya Syaikh Abdullah Al-Bassam rahimahullah.    

 

Koleksi Audio Ceramah Ulama

Tidaklah samar bagi kami di masa saat ini ini pesatnya kemajuan teknologi informasi. Diantaranya adalah berwujud kemudahan untuk meraih rekaman kajian dan ceramah/muhadharah para ulama dari bermacam negeri, baik yang disajikan di web mereka atau web dakwah lainnya.

Mendengarkan ceramah mereka -yang notabene berbahasa arab- tentu bakal terlampau menopang kami di dalam memperkaya kosakata dan membiasakan diri mendengar info berbahasa arab dari para ulama.

Hal ini bakal terlampau efektif bila kami terhitung telah mempunyai kitab atau materi yang dibahas di dalam kajian atau ceramah mereka.

Tidak jarang terhitung ceramah mereka yang telah ditranskrip atau dibukukan di dalam bentuk tulisan. Hal ini terlampau menopang para penimba pengetahuan pemula yang belum jadi biasa menyimak penjelasan berbahasa arab, karena mereka bisa memperbandingkan nada yang didengarkan bersama hasil transkrip yang dibaca.

 

Apabila kami cermati, sebagian ulama lebih banyak mengemukakan ceramah daripada menulis kitab.

Meskipun demikianlah ternyata kami dapati banyak kitab karya beliau. Bagaimana bisa demikian? Tentu saja ini adalah hasil buah pena murid-muridnya yang menuliskan kembali penjelasan guru mereka kemudian diterbitkan di dalam bentuk kitab.

Salah satu umpama yang kondang di dalam hal ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah. Banyak kitab beliau yang asalnya adalah pelajaran secara lisan yang kemudian dibukukan.

Contoh lain -yang saat ini tetap hidup- adalah Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah bersama sejumlah kitab yang merupakan hasil transkrip dari pelajaran lisan yang beliau berikan. Misalnya, kitab al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad. Begitu pula kitab Durus fi Syarhi Nawaqidhil Islam, I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid, dsb.

Contoh lainnya terhitung -yang saat ini tetap hidup dan bisa diperoleh transkrip ceramah-ceramahnya di internet- adalah Syaikh Dr. Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah.

Diantara pembahasan terlampau berguna -dalam bab keimanan- yang beliau sampaikan adalah kajian kitab at-Taudhih wal Bayan li Syajarat al-Iman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah; penulis kitab tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman. Dan diantara pembahasan paling bernilai lainnya yang dibawakan oleh Syaikh Shalih as-Suhaimi adalah kajian kitab Taisir al-Karim ar-Rahman karya Syaikh as-Sa’di yang terhitung bisa didownload di internet. Hanya saja untuk pembahasan ke dua kitab ini kami belum mendapatkan transkripnya.