
Bukan hanya Indonesia tetapi dunia secara global sudah menghadapi resesi. Indonesia diprediksi akan mulai memasuki masa resesi di tahun 2023. Namun demikian, kini sudah terasa dampaknya.
Bunga BI beberapa kali mengalami koreksi dan naik beberapa poin dari sebelumnya. Selain itu, naiknya BBM subsidi seperti pertalite dan solar membuat harga kebutuhan pokok pun merangkak naik. Di sisi lain sektor jasa pun menaikkan ongkos logistik.
Sehingga ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan kondisi finansial sebelum memasuki tahun baru nanti. Nah, jika masih punya utang kredit online cicilan bulanan, ada baiknya dikurangi dan segera melunasinya agar beban bulanan bisa lebih ringan saat menghadapi resesi. Lalu apa saja langkah yang perlu dihentikan dalam menghadapi resesi panjang? Simak ulasannya berikut ini ya.
Berulah di Kantor
Bagi yang sudah punya pekerjaan, maka bekerjalah sebaik-baiknya. Jangan sampai membuat ulah atau berulah di kantor sehingga mendapatkan penilaian kurang baik dari rekan kerja hingga atasan. Terlebih saat ini cukup sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sesuai dengan UMR.
Kita sudah merasakan semuanya pada saat pandemi 2020 dimana ada beberapa perusahaan harus melakukan efisiensi. Dampaknya PHK terjadi di mana-mana. Secara sistem, pekerja yang di PHK adalah mereka yang tidak mencapai KPI di tahun sebelumnya. Sehingga jika kinerja memburuk apalagi sikap yang ditunjukkan kurang kooperatif maka siap-siap saja untuk mencari kantor baru.
Investasi Berisiko
Selektif dalam berinvestasi. Beberapa orang memang pada akhirnya berinvestasi secara konvensional dengan membeli logam mulia. Meskipun keuntungannya kecil paling tidak lebih aman daripada jenis investasi lainnya. Selain itu bisa menahan laju nilai uang akibat inflasi.
Hindari berinvestasi jika mendapatkan tawaran-tawaran menggiurkan model-model koperasi yang menawarkan keuntungan dengan skema ponzi. Berhati-hatilah terhadap bujuk rayu yang manis. Terlebih saat ini modus penipuan lebih menjanjikan karena ada contoh sukses. Diberikan keuntungan di awal beberapa kali, lalu setelah itu sisanya dibawa kabur tanpa ada kabar yang jelas.
Menambah Utang Konsumtif
Tidak disarankan untuk menambah utang konsumtif kecuali utang produktif untuk usaha. Pada saat pandemi, terjadi kenaikan pinjaman di bidang usaha. Karena ada beberapa orang ternyata jeli dalam memanfaatkan situasi. Di sisi lain ekonomi tertekan namun ada orang-orang yang secara kreatif tetap bisa menghasilkan uang dari bisnisnya. Misalnya dengan berbisnis alat kesehatan yang saat itu meningkat tajam. Belum lagi dengan beberapa rempah-rempah yang harganya ikut terkerek naik.
Menggadaikan Aset Demi Utang
Aset berharga seperti tanah, rumah, ruko dan harta tak bergerak lainnya sangat mudah jika ingin digadaikan. Pengajuan kredit dengan agunan seperti ini peluangnya lebih besar jika diajukan lewat lembaga keuangan konvensional. Namun, risiko gagal bayar pun perlu diperhitungkan. Pasalnya jika tidak bisa membayar utang, alih-alih mendapatkan keuntungan justru aset yang digadaikan malah disita karena sudah dijaminkan.
Panik Hadapi Resesi
Banyak yang merasa panik dengan informasi tentang resesi. Menurut Prof. Rhenald Kasali bahwa saat ini terlalu banyak informasi yang tidak benar beredar di masyarakat. Apalagi informasi-informasi yang disampaikan justru kontraproduktif dengan kondisi ekonomi saat ini. Beberapa orang disarankan untuk menahan cash. Padahal menurut Prof Rhenald jika itu dilakukan justru Indonesia akan mengalami resesi lebih cepat karena daya jual tertahan, perusahaan tidak mendapatkan laba dan dampaknya tentu PHK bisa jadi semakin nyata.
Jadi tidak perlu panik berlebihan dalam menyikapi berita resesi di tahun 2023. Kondisi resesi sudah pernah dialami bersama pada saat pandemi di tahun 2020 dan 2021. Nyatanya hingga saat ini, Indonesia bisa bertahan dan keluar dari jurang resesi. Ekonomi lambat laun pulih dan peluang kerja lambat laun makin terbuka.
Hal lain yang justru lebih penting untuk dipersiapkan adalah dana darurat. Dana darurat yang ideal untuk yang sudah berkeluarga, harus cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok selama enam bulan hingga 12 bulan ke depan. Sementara bagi yang masih lajang dan tidak punya tanggungan, paling tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup selama tiga sampai enam bulan mendatang.
Masalahnya memang tidak semua punya dana darurat untuk periode yang cukup panjang. Ada solusinya yang bisa dilakukan yaitu mengajukan pinjaman lewat fintech tepercaya yang sudah terdaftar dan mendapatkan izin operasional dari OJK seperti Kredivo.
Kredivo memberikan pinjaman tunai dengan limit hingga Rp30 juta bagi member premium. Kamu bisa menggunakan setengahnya untuk keperluan darurat seperti membeli obat, memperbaiki rumah yang bocor atau rusak karena banjir, memperbaiki kendaraan, biaya pendidikan hingga pernikahan.
Bunga pinjaman hanya 2,6% saja per bulan, lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan sejenis. Untuk pinjaman tunai akan dikenakan biaya admin di muka sebesar 6% dari total pinjaman. Namun, jika digunakan untuk belanja dengan metode cicilan tidak akan dikenakan biaya admin.
Untuk belanja dengan metode cicilan minimal Rp500 ribu. Tenor 6 hingga 12 bulan dengan bunga sama yakni 2,6% saja. Khusus untuk tenor 3 bulan tidak dikenakan bunga, tapi hanya biaya admin sebesar 3% dari total pinjaman. Jadi, manfaatkan dengan baik sesuai dengan kebutuhannya saja. Bisa dipakai belanja kebutuhan pokok juga lewat marketplace.
Download langsung aplikasi Kredivo dari App Store maupun Google Play Store. Kini, kamu bisa belanja langsung dari aplikasi Kredivo tanpa pindah ke aplikasi lainnya.