No Grand Design, Problem Utama Pendidikan Indonesia

By | March 4, 2022

If you can’t explain it simply enough, you don’t understand it well enough. Quote Albert Einsten inilah yang bisa metidakmbarkan kualitas guru di Indonesia. Inilah yang dikemukakan oleh Indra Charismiadji, pengamat pendidikan abad 21 kepada saya, 6 Januari lalu, pada sebuah obrolan kami di satu kesempatan.

 Saya tidak sabar untuk segera menyimak penuturannya.

 Indra menuturkan bahwa menurut data dari Bank dunia, 25% guru di Indonesia suka membolos. Angka itu menunjukkan kinerja dan kualitas guru di Indonesia yang tidak qualified. Tentu saja hal ini bukan kabar bagus, mengingat guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.

 Lebih lanjut dikatakannya bahwa banyak quote Albert einstein yang mengena di hatinya – karena banyak terjun di dunia pendidikan. Indra sering menemui para pendidik yang tidak mampu njelasin dengan cara yang sederhana. Padahal kata  Einstein, kalo kamu tidak bisa menjelaskan dengan cara yang sederhana agar mudah dipahami orang makan artinya kamu belum menguasainya.

 Saya membenarkan letak kacamata saya. Lalu lanjut menyimak penjelasan pria lulusan University of Toledo, Ohio, Amerika Serikat ini.

 Menurutnya, keberadaan bimbel/bimbingan belajar yang menjamur sekarang ini, merupakan bukti bagaimana kualitas guru Indonesia. Padahal di bimbel, kebanyakan guru adalah mahasiswa. Bagaimana bisa ortu lebih percaya anak mahasiswa yang belum punya pengalaman mengajar bahakan belum lulus ketimbang guru yang sudah sertifikasi dan punya pengalaman mengajar?

 Sebuah pertanyaan menohok.

 Ia pun melanjutkan bahwa guru kita tidak pernah dikelola dengan baik. Kalo pemerintah serius mencerdaskan kehidupan bangsa, yang sekarang sih belum tau ya kapan pemerintah berani. Jika emang tidak layak sebagai pendidik jangan taro di gurulah taro aja di kelurahan kek, dimana kek. Jadi guru itu ibarat atlit, jadi atlit itu tidak bisa dipaksa dan tidak semua orang bisa jadi atlit.

Baca juga nih rekomendasi Wisata Hits Dieng 2022

 Malah mirisnya, tak hanya lemah dalam skill mengajar tapi ada juga guru yang tidak bisa baca.

 Beliau tiap hari ketemu guru-guru. Ada juga yang tidak bisa baca. Kajian dari UNESCO tahun 2012 menyatakan bahwa perbandingan orang Indonesia yang membaca adalah 1:000. Ini saja sudah menunjukkan bahwa pendidikan kita sudah gagal. Jika anak tidak mau membaca lalu darimana dia akan belajar?

 Saya menyimak sembari membetulkan kacamata saya.

 Indra pun membagikan kegelisahannya terkait urusan membaca di negeri ini. Bank dunia mengatakan bahwa urusan baca saja Indonesia  sudah termasuk pada functionally illiterate – buta huruf secara fungsional, hanya bunyinya saja membaca tapi tidak paham apa yang dibaca.

 Menurut kajian dari Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).”

 Guru itu Panggilan Hati

 Sayang, menurut Indra banyak sekali guru yang tidak bisa mengajar di Indonesia. Mereka jadi guru terpaksa. Sebenarnya, profesi guru itu bukan sedakar pekerja.

 tidak semua orang bisa jadi atlit bulutangkis. tidak semua orang bisa mengajar. Hanya orang-orang yang terpanggil saja yang bisa jadi guru. Itulah kelemahan sistim pendidikan di Indonesia.

 Menurut data dari bank dunia, guru Indonesia suka bolos. Ia sempet diskusi dengan Dirjen di Kemendikbud, hal ini terjadi karena banyak guru yang suaminya pejabat atau yang istrinya pejabat. Mereka menjadi guru karena titipan anggota dewan. Mereka bukan hendak mengajar tapi hanya cari status sebagai PNS saja.

 Padahal guru adalah profesi yang penting dan mulia.

 Ini dibuktikan oleh negara maju Jepang. Pada saat negara ini luluhlantak karena Hiroshima dan Nagasaki dibom saat itu, pemerintah Jepang mencari guru dan dosen untuk membangun kembali negaranya. Ini menunjukkan betapa profesi guru dan dosen bukan profesi yang sembarangan.

 Tak hanya Jepang, Singapura juga melakukan hal yang serupa. Lee Kuan Yew Perdana Menteri Singapura dari tahun 59–90an, antusias membangun SDMnya dengan SDM terunggul, guru. SDM yang unggul di masa depan harus dididik dengan SDM yang terunggul di masa kini.

 Sekelumit, Indra sampaikan masyarakat Indonesia termasuk pada masyarakat complasent. Masyarakat yang bisa nerima apa yang terjadi dalam dunia pendidikan dan mengatidakpnya baik-baik saja – merasa cukup dengan pendidikan anaknya dan bisa kerja.

 Pendidikan Terburuk

 Penyuka Phil Jackson ini pun meneruskan obrolan kami.

 Ia menyebutkan bahwa sistim pendidikan yang buruk di Indonesia dibiarkan selama 20 tahun atau bisa jadi malah disengaja.

 Alasannya adalah banyak sekali orang-orang yang punya kepentingan membuat bangsa ini bodoh. Kalo bodoh maka akan mudah diboongin, dibohongi dan diadu domba. Lihat kalo bangsa ini sudah cerdas belum? Lihat aja dari sejarah. Buku sejarah bilang, Indonesia dijajah 350 tahun oleh Belanda. Padahal yang ngejajah bukan Belandanya tapi BUMDnya. Lucu kan, kalo kita dengar Malaysia dijajah sama PDAM Bogor itu masuk sejarah Indonesia.

 Tentu saja hal ini tidak mendiskreditkan perjuangan pahlawan nasional yang sudah membawa bangsa ini menuju merdeka. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat kita mudah diadu domba dengan saudara sendiri – tidak cerdas.

 Ia pun menerangkan bahwa di tahun 2022 saja kita masih bisa diadu domba. Beberapa istilah yang mungkin kita sering dengar tentang cebong kampret, cebong kadrun masih saja terjadi di masyarakat. Ini menunjukkan kita masih mudah dipecahbelah.

 Contohnya, urusan Pileg. Berapa banyak saudara, sahabat, handai taulan yang ‘retak’ karena perbedaan pendapat.

 Ada upaya pembodohan dalam sistim pendidikan kita. Orang yang bodoh dengan mudah dibohongi. Dengan uang 50 ribu 100 ribu saja plus sembako, seseorang akan mudah digiring ke satu suara. Kalo orangnya cerdas, tentu ia akan bertanya kamu programnya apa? Makanya di Indonesia orang pinter tidak disukai. Kalo banyak yang bodoh maka akan banyak keuntungan yang bisa diambil.

 Kajian terkait kondisi pendidikan Indonesia tidak hanya datang dari dalam negeri saja tapi juga luar negeri.

 Dengan lugas ia mengatakan bahwa ada sebuah kajian bahwa sekolah di Indonesia itu tambah bodoh bukan tambah pinter. Ini kan ngeri.

 Sebuah kajian akademis dari Indonesia Family Life Surveys mengatakan bahwa tahun 2000 ada soal matematika yang dulu bisa dikerjakan oleh anak kelas 4 SD tapi pada tahun 2014 soal tersebut baru bisa dikerjakan oleh anak SMP kelas 7.

 Ia prihatin. Kualitas pendidikan tambah turun padahal atidakrannya naik. 550 triliun per tahun, atidakran ini sia-sia.

 Hal lain terkait kualitas juga datang dari kajian yang dialkukan oleh Center for the Economics of Education.

 Panjang indra menyampaikan keluh kesahnya – Saya bukan asal ngomong. Yang paling baru baru kita bisa lihat bagaimana sulitnya Indonesia beradaptasi dengan pembelajaran digital saat pandemi. Orang bingung semua. Saya sendiri tidak heran. Tahun 2002 saya sudah turun ke lapangan, mereka sulit memanfaatkan teknologi. Kajian Inggris dari Center for the Economics of Education 2018, kesimpulannya anak indonesia siap menghadapi abad 21 di abad 31. 1000 tahunlah ketitidaklan.

 No Grand Design

 Indra berpendapat bahwa salah satu penyebab buruknya sistim pendidikan di Indonesia adalah kebijakan pemerintah yang diam di tempat.

Tapi juga pemerintah tidak pernah mengubah programmnya. Kajian dari Center for the Economics of Education menyebut kebijakan pendidikan di Indonesia sebagai alat saja untuk business as usual with more money. Program yang digelontorkan hanya program itu-itu aja hanya ganti nama saja. Ibarat henpon hanya ganti chasing aja tapi dalemnya sama. tidak beda jauh.

Kendati setiap pergantian menteri katanya ada terobosan baru, Indra menyebutnya itu hanya daur ulang. Hanya untuk kepentingan bisnis saja.

Kenapa ini terjadi? Karena Indonesia tidak punya blue print. tidak punya grand design. Bandingkan dengan Singapur yang negaranya hanya segede kecamatan di Indonesia, sekolahnya hanya 300 dan universitasnya hanya 5. Mereka punya blue print untuk digitalisasi pendidikan dari taun 97. Saat ini udah bicara di fase 5. Pas pandemi mo daring kek luring kek tidak ada masalah karena udah 25 tahun.

 Indra menambahkan bahwa Indonesia bisa belajar kepada Malaysia dengan program one bestarinet-nya. Upaya negeri tetatidak ini mendigitalisasi 10 ribu sekolahnya dengan rencana 15 tahun dihentikan karena pada tahun ke-9 diatidakp tidak sesuai target. Keputusan mereka diambil karena mereka punya grand design yang jelas.

 Di Indonesia ada 260 ribu sekolah dengan 7 ribu perguruan tinggi, tidak ada planning apa tidak kacau balau?  tidak bisa diputusin lanjut atau berhenti. Kalo ngaca ke Malaysia aja maka kita butuh 390 tahun. Kita harus berhitung seperti itu. Indra selalu mengatakan agar kita punya grand design. Selalu cerewet. Pendidikan kita mau dibangun seperti apa?

 tidak keliatan hasilnya karena target dan gambarnya tidak jelas. Misal kita mo punya gedung 70 lantai lalu yang terbangun baru ruko 3 lantai kan artinya ada problem. Itulah wajah buram pendidikan Indonesia.

 Terus Berjuang

 Kendati perjuangannya terasa berat, Indra tidak menyerah. Ia memilih maju terus pantang mundur.

 Meski sadar ini chancenya kecil untuk menang. Ini perjuangan melawan sesuatu yang berat. Tapi harus diupayakan. Kalo upayanya berhasil ya bagus. Kalo tidak ya tidak papa. Paling tidak udah berusaha semampu kita. Ia berharap banyak orang yang punya pandangan sama dengannya. Ia tidak memihak. Yang benar didukung, yang salah dikritik.

 Bagi Indra, bertarung di ganasnya ombak lautan pendidikan yang tak berpihak padanya, membawa dirinya pada sebuah kebahagiaan tersendiri.

Ia tidak nyesel, lebih hepi begini. Kalo jadi pengusaha kan bisa ngumpulin uang banyak untuk diri dan tim. Tapi yang ia lakukan ini akan berdampak pada 250 juta penduduk Indonesia. Minimalnya 50 juta penduduk memang butuh perbaikan pendidikan, it will bring joy to my life – katanya. Menutup obrolan kami, ia menegaskan bahwa perjuangannya tidak bisa diukur dengan uang karena ini adalah membuat perubahan.

*Baca juga esai-esai menarik di Platform Media Opini & Esai kotomono